MUNGKIN semua orang pernah berpikir tentang pendidikan yang kita jalani sampai jenjang lebih tinggi. Dari proses panjang, menghabiskan usia, dan biaya cukup mahal, lantas seberapa banyak dan dalam ilmu yang kita peroleh dapat mengantarkan perubahan kehidupan berarti bagi sendiri dan orang lain?
Pertanyaan ini menyadarkan kita tentang output sistem pendidikan yang terus diperdebatkan banyak kalangan
Berbicara pendidikan selalu terkait perubahan kehidupan menuju arah kualitas dan kuantitas peserta didik serta lingkungan yang mengitari.
Itu harapan semua orang, tetapi realitasnya khususnya dalam kondisi perekonomian masyarakat menengah ke bawah, tampaknya menaruh harapan pada lembaga pendidikan.
Asumsi tersebut tercermin pada pernyataan yang sering muncul, seperti untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh banyak sarjana menjadi pengangguran. Lebih baik bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga.
Persoalannya sekarang adalah mengapa banyak sarjana yang seharusnya menjadi harapan bangsa justru menjadi beban bangsa? Mengapa?
Apakah ketika mereka menjadi mahasiswa, belajar setengah-setengah atau dosen tidak mampu mengantarkan mahasiswa ke arah yang diharapkan, atau sistem pendidikan kurang menguntungkan bagi mahasiswa?
Ada beberapa kemungkinan mengapa hal itu terjadi. Pertama, tak sedikit mahasiswa kuliah di perguruan tinggi hanya murni akademis dalam arti belajar hanya tatap muka dengan dosen dalam ruang kelas.
Mereka jarang bahkan tidak pernah mengikuti kegiatan intra atau ekstra-kampus, karena khawatir akan merusak nilai akademisnya. Padahal, dua kegiatan tersebut dengan kuliah saling melengkapi.
Kedua, mungkin dosen pengampu mata kuliah tidak memiliki kualifikasi profesional atau di bawah standar kompetensi, karena kesalahan perekrutan sehingga efek yang terjadi pada materi ajarnya terkesan melangit dan sulit dipraktikkan di masyarakat. Artinya, keilmuan yang dipelajari di ruang kelas sebatas teori untuk teori, bukan untuk menjawab problematika kehidupan.
Berorientasi Angka Ketiga, sistem pendidikan formal yang diterapkan di Indonesia hanya berorientasi pada angka-angka yang tertuang dalam ijazah sebagai bentuk prestasi peserta didik. Sistem pendidikan model seperti ini lebih mengedepankan kecerdasan intelektual dan mengesampingkan sisi kecerdasan lain.
Secara praktis, ini bukti bahwa sistem pendidikan masih percaya pada anggapan bahwa orang yang mempunyai kecerdasan intelektual tinggi dapat menggapai kesuksesan, padahal tesa ini dibantah oleh Daniel Golmen, bahwa kecerdasan intelektual hanya memberikan kontribusi 6-20% terhadap kesuksesaan dan selebihnya adalah kecerdasan emosional.
Menurut Daniel Golman, kecerdasan emosional sangat penting untuk dimiliki oleh siapa pun dalam menggapai kesuksesan, sebab jika seseorang dalam melakukan kerja sama atau interaksi antara pimpinan dengan karyawan atau dengan siapa pun hanya menggunakan kecerdasan intelektual dan tumpul secara emosional, maka kerja sama itu menjadi gagal, karena tidak mampu bersikap simpatik dan persuasif.
Oleh karena itu, sistem pendidikan yang mengukur keberhasilan peserta didik dengan menggunakan angka-angka sebaiknya tidak terus dipertahankan, karena model pendidikan tersebut secara kejiwaan menafikan sisi kemanusiaan yang lain. (Arif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar